Editor | Rabu, 15 Agustus 2018 14:17:14 WIB


Miskin, berbalut pakaian lusuh dan jauh dari ketenaran. Begitulah kira - kira gambaran kebanyakan orang yang hidup saat itu mengenai sosok Uwais Al - Qarni.

Uwais Al - Qarni adalah seorang dari kalangan tabi’in meskipun hidup sebelum Rasulullah صلى الله عليه وسلم wafat, dan dapat bertemu dengan para sahabat. Menderita penyakit kusta dan ayahnya telah lama meninggal dunia. Hidupnya sangat miskin dan dalam keadaan yatim. Ibunyalah yang menjaganya sejak kecil hingga beliau tumbuh dewasa. Walaupun miskin, Uwais Al - Qarni memiliki akhlaq yang indah dan amanah.

Hanya bersama seorang ibu yang sudah tua, buta dan lumpuh beliau tinggal. Di situ mereka berdua meneruskan kehidupan ini tanpa memiliki sanak saudara. Apabila sang ibu membutuhkan bantuan, Uwais tidak pernah berkeluh kesah dan akan melayani ibunya terlebih dahulu sebelum melakukan perkara lain.

Sebenarnya, ada hasrat tersimpan dalam diri Uwais. Dia rindu ingin bersua dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Hatinya merasa sedih setiap kali mendengar cerita tetangganya yang dapat bertemu dengan Rasulullah .صلى الله عليه وسلم Namun apalah daya, hati tak sampai bila harus meninggalkan ibunya yang sudah tua. Meski begitu Uwais ridha dengan keadaan yang seperti itu.

Kecintaannya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم bukan sekedar cinta yang main - main. Dikisahkan ketika mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم terluka dan gigi Beliau صلى الله عليه وسلم patah di dalam perang Uhud, Uwais lantas memukul giginya dengan batu sehingga patah. Ini sebagai wujud ungkapan cintanya kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sekalipun dia tidak pernah bertemu dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Kerinduan dan kecintaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم membuat dia bertanya - tanya, Adakah waktu bagiku untuk sekedar berjumpa dengan kekasih Allah yang agung itu.

Sekian waktu berlalu, rasa rindu kepada Nabi صلى الله عليه وسلم yang selama ini dipendam tak dapat ditahan lagi. Lantas ia datang mendekati ibunya, memberitahu keinginannya dan memohon izin dan restu agar dapat pergi menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم di Madinah.

Sang ibu merasa terharu mendengar permintaan Uwais yang sangat tulus dan berkata, “Pergilah engkau wahai Uwais, Temuilah Nabi di rumahnya. Kelak, selesai berjumpa dengan Beliau, segeralah engkau pulang ke pangkuanku.”

Betapa gembira si Uwais setelah mendapat izin dari ibunya. Segera dia berkemas untuk berangkat. Menyiapkan segala keperluan ibunya dan berpesan kepada tetangganya agar menemani ibunya selama dia pergi. Sesudah bersalaman dan mencium ibunya, Uwais pun berangkat menuju Madinah.

Setelah melalui perjalanan yang berat dan jauh, akhirnya Uwais senang dapat sampai di kota Madinah. Dia lantas menuju ke rumah Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan mengetuknya. Namun salamnya dijawab seorang wanita. Beliau adalah Aisyah radhiallahu'anha. Beliau mengabarkan bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak ada di rumah karena sedang berada di medan pertempuran. Alangkah sedih hati si Uwais. Dari jauh dia datang, membawa harapan untuk dapat berjumpa dengan seorang yang sangat dicintainya. Namun, apa mau
dikata Nabi صلى الله عليه وسلم tidak dapat ditemuinya.

Teringat oleh pesan ibunya yang sudah tua, hati Uwais serba salah. Ingin sekali menunggu Rasulullah .صلى الله عليه وسلم Namun di telinganya terngiang - ngiang kata - kata ibunya yang menyuruh agar dia lekas pulang. Bagaimana keadaan ibunya kini?. Akhirnya karena ketaatan kepada sang ibu, Uwais memutuskan berangkat pulang dengan segera meskipun hati masih terasa berat .

Kepada Aisyah radhiallahu'anha, dititipkanlah pesan dan salam untuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Tidak lama kemudian, Rasululullah SAW pulang dari medan peperangan. Kedatangan Uwais disampaikan oleh Aisyah.

“Itulah Uwais Al - Qarni, anak yang taat pada ibunya. Dia adalah penghuni langit,” ujar Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Aisyah dan sahabat tertegun. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata lagi: “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah dia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Rasulullah صلى الله عليه وسلم memandang ‘Umar radhiallahu'anhu. Seraya bersabda “Dia seorang penduduk Yaman, daerah Qarn, dan dari kabilah Murad. Ayahnya telah meninggal. Dia hidup bersama ibunya dan dia berbakti kepadanya. Dia pernah terkena penyakit kusta. Dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan diberi kesembuhan, namun masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Sungguh, dia adalah pemimpin para tabi’in.”

Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda “Jika kamu bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampun (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) untukmu, maka lakukanlah!”

Sekian waktu berlalu, dan Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم mengenai Uwais Al - Qarni, sang penghuni langit. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Umar radhiallahu'anhu selalu menanyakan mengenai Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apaapa
itu, yang kerjanya hanya menggembalakan kambing dan unta setiap hari.

Rombongan kafilah dari Yaman datang silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al - Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar radhiallahu'anhu mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al - Qarni turut bersama mereka.

Rombongan kafilah itu mengatakan bahwasanya Uwais Al - Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta - unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Beliau segera pergi menjumpai Uwais AlQarni. Sesampainya di tempat Uwais berada, 'Umar radhiallahu'anhu langsung bertanya kepada Uwais untuk memastikan.

Beliau 'Umar radhiallahu'anhu menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah (hamba Allah)“. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya? Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais AlQarni”.

Umar radhiallahu ‘anhu melanjutkan, “Di Yaman daerah mana?’ Dia menjawab, “Dari Qarn.” “Tepatnya dari kabilah mana?” Tanya Umar radhiallahu ‘anhu. Dia menjawab, “Dari kabilah Murad.” Umar radhiallahu ‘anhu bertanya lagi, “Bagaimana ayahmu?”. “Ayahku telah meninggal dunia. Saya hidup bersama ibuku,” jawabnya. Umar radhiallahu ‘anhu melanjutkan, “Bagaimana keadaanmu bersama ibumu?’. Uwais berkata, “Saya berharap dapat berbakti kepadanya.”. “Apakah engkau pernah sakit sebelumnya?” lanjut Umar radhiallahu ‘anhu. “Iya. Saya pernah terkena penyakit kusta, lalu saya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga saya diberi kesembuhan.”.

Umar radhiallahu ‘anhu bertanya lagi, “Apakah masih ada bekas dari penyakit tersebut?”. Dia menjawab, “Iya. Di lenganku masih ada bekas sebesar dirham.” Dia memperlihatkan lengannya kepada Umar radhiallahu ‘anhu. Ketika Umar radhiallahu ‘anhu melihat hal tersebut, maka dia langsung memeluknya seraya berkata, “Engkaulah orang yang diceritakan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Mohonkanlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untukku!”

Uwais berkata, “Kok malah saya yang memohonkan ampun untukmu wahai Amirul Mukminin?” .Umar radhiallahu ‘anhu menjawab, “Iya.”. Umar radhiallahu ‘anhu meminta dengan terus mendesak kepadanya sehingga pada akhirnya Uwais memohonkan ampun untuknya.

Lantas 'Umar radhiallahu ‘anhu bertanya kepadanya mengenai ke mana arah tujuannya setelah musim haji. Dia menjawab, “Saya akan pergi ke kabilah Murad dari penduduk Yaman ke Irak.”

Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Saya akan kirim surat ke walikota Irak mengenai kamu?”

Uwais berkata, “Saya bersumpah agar engkau tidak melakukannya wahai Amriul Mukminin. Saya mohon biarlah hari ini saja saya dikenal orang. Untuk harihari selanjutnya, biarlah saya tidak diketahui orang lagi..”

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al - Qarni pun meninggal dunia. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba -tiba sudah banyak orang yang berebut - rebut untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orangorang
yang menunggu untuk mengkafaninya.

Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang - orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika keranda dibawa menuju ke liang lahat, orang berebut - rebut mengangkat jenazah dan mengiringinya.

Meninggalnya Uwais Al - Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi peristiwa yang mengherankan. Banyak sekali orang yang tidak dikenali datang untuk menguruskan jenazahnya sehingga ke liang lahat sedangkan selama ini Uwais hanyalah seorang miskin dan tidak dihiraukan orang.

Mulai dari saat dia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang - orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanyatanya, “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais AlQarni?

Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa - apa, yang kerjanya seharihari hanyalah sebagai penggembala kambing dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusiamanusia
yang tidak pernah kami kenal.

Mereka datang dalam jumlah yang begitu banyak. Mungkin mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais AlQarni dan peristiwa - peristiwa langka yang terjadi ketika hari beliau wafat telah tersebar ke seluruh negri Yaman. Baru hari itu mereka sadar siapa sebenarnya Uwais AlQarni.

Di hari wafatnya, mereka mengakui bahawa memang benar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم, sesungguhnya Uwais Al - Qarni adalah seorang penghuni langit.

Begitu banyak ibrah yang bisa kita ambil dari kisah seorang tetamu Agung penghuni langit bernama Uwais Al - Qarni. Begitu zuhud nya beliau terhadap dunia ini. Adakah kita meniru sifat beliau? Semoga cerita di atas bisa diambil manfaat nya.