Editor | Selasa, 04 September 2018 14:42:40 WIB


Saat kecil, semasa SD, aku paling tak suka bila digodain temen - temen sekelas, dijodohkan dengan Ar.Biasanya aku langsung pergi dan menangis. Bila melihatnya di kejauhan, aku akan segera menghindar, menghentikan permainan lompat karet dan segera mengasingkan diri di kelas. Bersembunyi dengan melipat wajahku di meja dalam - dalam.

Kelas 5 SD aku pindah sekolah mengikuti bapak yang pensiun ke desa. Kutinggalkan teman - teman di kota, juga Ar. Sedih pastinya, tapi aku juga lega, tak lagi digodain mereka.

Waktu berlalu, tanpa sengaja aku bertemu lagi dengan Ar di sebuah pesta Nasional Kepanduan. Kala itu aku mewakili kabupaten yang berbeda. Tanpa disangka, saat itu aku bertemu Ana sahabat SD dulu. Ia yang memberitahu, Ar ikut di pesta kepanduan itu. Entah mengapa aku begitu gugup mendengar nama Ar disebut. Hingga aku bertemu dengannya karena suatu tugas upacara.

Sejak itu, kontak dengan Ana tersambung. Kami sering berkirim surat. Bahkan hingga kuliah selesai. Sementara kabar Ar aku tak pernah tahu. Hanya sekali selepas lulus SMU dulu, aku dengar kabar Ar mau mendaftar sekolah program ikatan dinas. Kabar selanjutnya aku tak tahu lagi. Hari - hari selanjutnya aku sibuk dengan kuliahku di fakultas kedokteran. Sebenarnya, aku Cuma modal bismillah dan nekat.
Bagaimana tak nekat? Sebenarnya aku khawatir dengan biayanya yang selangit, tapi bapak dan ibuku mendukungku.

“Nanti, insya Allah ada jalan. Yang penting kamu sungguh - sungguh kuliah. Tak semua orang bisa diterima di perguruan tinggi negeri. Kamu sudah punya kesempatan. Gunakan itu.”

Meski awalnya bimbang, akhirnya aku pergi juga ke rantau untuk kuliah. Diantar Bapak aku menapakkan kaki pertama kali di kota asing. Hari itu, kami sibuk mencari kos. Rata - rata dengan biaya menengah ke atas. Meski Bapak bilang tak masalah, aku yang justru tak tega. Sudah hampir 10 tempat kos kami datangi, rata - rata menolak karena penuh atau harga yang kelewat tinggi.

Menjelang Ashar belum juga ada tanda keberuntungan. Bapak memutuskan menunggu Ashar di masjid sambil istirahat. Qadarullah, kami paling akhir keluar masjid, bersama seorang ibu. Melihat bawaan kami lumayan banyak, ia langsung menebak.
“Baru datang ya? Sudah dapat kos?”
“Belum, Bu. Sedang mencari.”
“Kalau mau, tinggal sama ibu mertua saya saja. Ia sendirian. Kebetulan saya sedang menengoknya dari luar kota,”
Seperti mendapat durian runtuh, kami bersyukur dalam hati. Aku tak dimintai biaya sepeser pun, hanya diminta merawat rumah dan menemani empunya rumah. Beliau juga sangat sayang padaku. Tak terasa, delapan semester berlalu, lengkap dengan suka dukaku menjalani kuliah dan kehidupan di rantau. Beruntung aku tak pernah terlibat pergaulan buruk atau terbawa arus gaya hidup sebagian teman - teman kuliah yang kebanyakan datang dan keluarga berada. Tapi aku tetap berkawan baik dengan mereka. Mereka punya prinsip, aku juga punya prinsip. Aku tak mau mengecewakan orangtua yang telah membiayaiku.

Dan Allah memberikan aku hidayah mengenal manhaj salaf semenjak aku masuk semester IV. Di antara kebahagian itu, kami selalu saling menjaga dan menasihati satu sama lain, bahkan seperti saudara. Jadi aku tak merasa sendiri di rantau. Punya ibu kos yang baik, juga teman - teman yang insya Allah terjaga pergaulannya.

Libur semester kali ini aku tak pulang. Sibuk dengan praktik, juga kerja magang di sebuah RS. Sore itu aku pulang ke tempat kos seperti biasa. Rumah tampak ramai, ada mobil di depan rumah. Kupikir terjadi sesuatu pada ibu kos, ternyata anak beliau pulang dengan beberapa temannya, aku lega.

Empunya rumah bilang, teman anaknya sedang mencari jodoh.
“Barangkali dapat jodoh di sini. Katanya mau dikenalkan teman - teman SMU Sony (anak empunya rumah), barangkali cocok.” Aku tersenyum mengangguk.

Tak kusangka, paginya beliau malah menemuiku dengan berita yang mengejutkan.
“Nok, (Nak. Orang Jawa umumnya menggunakan panggilan ini untuk anak perempuan). kata Sony, temannya mau kenalan sama kamu. Kemarin ia lihat waktu kamu pulang lewat pintu samping. Malah ia kira kamu adik Sony. Syukur, Si Nok mau serius.”

“Ya, terima kasih mbah (aku biasa memanggil ibu kost dengan panggilan mbah)”.
“Lho, kok cuma terima kasih. Kenalannya mau nggak?”
“Nanti saya pikir - pikir dulu, Mbah”
“Jangan nanti - nanti, soalnya mereka pulang besok sore. Kantornya sudah masuk lusa.”

Malamnya, Mbah mengantar selembar kertas ke kamar. Beliau tahu aku “tak menemui pria”. Ternyata, kertas itu berisi biodata teman anak ibu kos. Sekilas kubaca. Namun kertas biodata di tanganku benarbenar menarik perhatianku. Hingga memaksaku mencermatinya kembali. Kubaca ulang. Masya Allah, nama itu begitu kukenal. Dan alamatnya? Tak salah, ini pasti Ar. Entah mengapa jantungku berdebar kencang dan berbunga - bunga.

Inikah jodoh? Di manapun aku ada selalu saja tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Pada akhirnya, aku memang menikah dengan Mas Ar,” kekasih” masa lalu yang sering dijodohkan teman - teman SDku dulu. Aku menikah tiga bulan kemudian, meski belum wisuda. Alhamdulillah, aku akhirnya bisa menyelesaikan kuliahku seperti harapan bapak dan ibu.

Kini telah kami miliki empat buah hati di tengah kesibukan dinasku dan Mas Ar. Semoga pernikahan kami penuh dengan sakinah, mawadah warahmah.