Editor | Selasa, 04 September 2018 14:51:39 WIB


Di saat aku berada di ruang mayat, seorang pemuda datang dengan tergopoh - gopoh. Ia berkata, “Ya Doktor Khalid, semoga Allah memberimu kebaikan ayahku sedang sekarat, coba anda talqinkan kepadanya dua kalimat syahadat.” Aku katakan, “Saya rasa kalian anak -anaknya lebih berhak mentalqinnya dari padaku dan lebih memiliki rasa iba lebih dalam dari padaku semoga Allah memberkahi kalian.” Pemuda itu terus mendesakku dan ia katakan bahwa ini sudah kesepakatan dan keinginan semua saudara - saudaranya.

Kemudian aku pergi bersamanya, lantas apa yang aku lihat? Seorang laki - laki sedang terbujur kaku, detak jantungnya lemah, paru - parunya terhenti dan dalam keadaan tidak sadar. Dia sedang sekarat. Tekanan darahnya sangat rendah, demikian pula denyut nadinya. Aku katakan, “Ya fulan, ucapkan Asyhadu allailaha illallah.” Lalu ia mengangkat jarinya seraya mengucapkan syahadat.

Anehnya, ketika ia mengucapkan syahadat tersebut tekanan darahnya naik dari 130 sampai dengan 140 dan denyut jantungnya naik dari 100 sampai dengan 110, sampai - sampai seorang perawat merasa terkejut, cemas dan kagum dengan apa yang terjadi. Aku selalu mengingatkan perawat tersebut tentang kejadian tadi. Aku katakan ini adalah hujah atasmu dan akan menjadi hujjahmu jika kamu masuk ke dalam Islam.

Kemudian lelaki tersebut menoleh ke anak - anaknya yang shalih dan merupakan contoh anak - anak yang berbakti dan menjaga ayahnya. Mereka bergantian menjaga sang ayah malam dan siang dengan membagi enam hari sesuai dengan jumlah mereka –semoga Allah memberi mereka taufik dan memperbaiki keadaan si anak.

Aku katakan kepada mereka, “Bacakanlah al - Qur’an untuknya!” lalu mereka melaksanakannya, semoga Allah memberi mereka kebaikan.
Demikianlah kondisi si ayah selama tiga hari dengan tekanan darah 130 - 140 dan anak - anak terus membacakan al - Qur’an untuknya pagi dan malam. Lalu si ayah pun meninggal.

Aku tanyakan kepada anak - anaknya, “Apakah ayah kalian gemar membaca alQur’an?” Mereka jawab bahwa ia mengkhatamkan a - lQur’an
seminggu sekali dan terkadang lebih dari sekali. Semoga Allah merahmatinya dan mengumpulkan kita semua di kampung yang mulia (surga). Dalam sebuah riwayat shahih dari Abu Mush’ab (semoga Allah memberi husnul khatimah kepadanya, kepada orang tuanya dan
kepada kaum muslim) bahwa ia berkata :

أهَُْل القرُْآِن هْم أهَُْل لِله وََخاصَُّتُه

“Ahlul Qur’an adalah Ahlullah dan orang - orang pilihanNya.”